HMJ MD UIN Bandung Goes to MD UIN Jogja

Studi Banding menjadi salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk menjalin silaturahmi sekaligus penguatan akademik antar prodi Manajemen Dakwah. HMPS MD UIN Jogja berkesempatan menerima kunjungan HMJ MD UIN Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 30 April 2024 yang bertempatan di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Prodi Manajemen Dakwah, Bapak Toriq Nurmadiansyah, Sekretaris Prodi Manajemen Dakwah, Bapak Irfai Muslim, anggota HMJ UIN Bandung dan anggota HMPS MD Jogja.

Kegiatan Studi Banding ini diawali dengan sambutan oleh Kepala Prodi Manajemen Dakwah, Bapak Toriq Nurmadiansyah, yang mengatakan bahwa “Studi Banding ini merupakan salah satu langkah awal untuk menjalin kerjasama dalam penelitian kajian ke-MD-an serta menambah relasi bagi anggotanya”.

Selanjutnya di sambung oleh ketua HMPS MD Jogja, Muhamad Nauval Fauzan, menyepakati yang disampaikan oleh kaprodi MD bahwa “kegiatan ini menjadikan langkah awal kolaborasi antar HMPS MD yang lebih erat dimasa depan”. Kemudian sambutan Ketua HMJ MD UIN Bandung, Ikbal Maulana Ramadhan, mengatakan “ada keinginan yang belum tercapai yaitu membuat kegiatan FGD MD se-Indonesia dikarenakan banyak hal dan alasan tersendiri, oleh karena itu HMJ MD UIN Bandung membuat kegiatan bersama HMPS MD UIN Jogja”. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana memperkuat kolaborasi antar civitas akademika Manajemen Dakwah.

Acara selanjutnya merupakan pemaparan materi yang disampaikan oleh Bapak Muhammad Irfai Muslim. Beliau mengatakan bahwa keberagaman budaya merupakan satu keniscayaan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun bentuk keragaman seperti agama&kepercayaan, Budaya-etnis, kelas sosial, jenis kelamin, bahasa, usia dan lain sebagainya. Persoalan yang mengancam keberamana & kebangsaan seperti kurangnya nalar kritis, mempercayai hoaks, ujaran kebencian dianggap sebagai sebuah kebenaran. Beliau juga memberi contoh pada penelitiannya, bahwasannya kementrian agama itu tidak semuanya beragama islam tetapi ada juga yang non islam. Dan beliau juga menceritakan tentang agama konghucu di akui oleh pemerintah Indonesia pada masa presiden Gus Dur alasannya kalau tidak ada agama konghucu masyarakat Indonesia akan berpindah atau mempercayai agama kristen, sehingga dikhawatirkan masyarakat akan lebih banyak memilih agama kristen.

Acara ini di tutup dengan foto bersama dan penyerahan plakat antara HMPS MD UIN Jogja kepada HMJ MD UIN Bandung dan sebaliknya.

kontributor: Qothrunnada Nisrina (Mahasiswa Manajemen Dakwah 2022)