Dosen STIA Mataram NTB Memberikan Kuliah Tamu Online di MD

Dosen sekaligus Ketua Prodi Administrasi Publik Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Mataram Nusa Tenggara Barat, Dhea Candra Dewi, S.AP, M.AP, memberikan kuliah tamu secara daring di Prodi MD Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Kamis 23 April 2020. Alumni Sarjana dan Magister Administrasi Publik dari FIA Universitas Brawijaya tersebut memberikan materi pada mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia tahap lanjut yang diampu oleh Bayu Mitra A. Kusuma, S.AP, M.AP, M.Pol.Sc. Tema yang dibawakan oleh akademisi perempuan kelahiran Kediri tersebut adalah manajemen sumber daya aparatur di masa pandemi covid-19.

Dalam pemaparannya, eks Kaprodi Administrasi Publik FISIP Universitas Bhayangkara Surabaya tersebut mengemukakan bahwa salah satu tugas utama dari Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah menjalankan pelayanan publik. Pelayanan publik merupakan salah satu fungsi dari eksistensi lembaga pemerintahan. Baik buruknya pelayanan yang diberikan oleh lembaga pemerintahan merupakan cerminan dari tingkat responsivitas pemerintah kepada masyarakatnya. Kinerja sumber daya manusia, yang dalam hal ini adalah ASN, merupakan salah satu aspek mendasar dalam pengukuran kualitas pelayanan di suatu lembaga sehingga seringkali menjadi sorotan masyarakat.

Kinerja ASN juga menjadi tolak ukur tingkat keberhasilan abdi negara di sektor pemerintah dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pelayan masyakarat. Sekalipun bekerja dari rumah atau work from home (WFH), diharapkan semua pegawai harus tetap memiliki kewajiban dan tanggungjawab yang sama dengan bekerja di kantor. Dalam ajaran Islam, setiap ASN sebagai representasi dari kepanjangan tangan negara harus memiliki sikap amanah dimanapun dia bekerja. Pada pelaksanaannya, penerapan WFH ternyata memilikiberbagai tantangan dan kendala yang tidak mudah. Hail ini karena tidak semua sektor pekerjaan dapat dikerjakan hanya dari rumah.

WFH memiliki beberapa kekurangan antara lain: hilangnya motivasi kerja, kesulitan dalam monitoring, tidak meratanya jaringan internet, penguasaan teknologi informasi yang lemah, ancaman keamanan data, dan potensi munculnya miskomunikasi dalam proses kerja. Namun di sisi lain WFH sebenarnya juga memiliki kelebihan jika dimanfaatkan dengan baik, seperti: adanya work life balance, kepuasan kerja yang meningkat, produktivitas yang meningkat, jam kerja yang fleksibel, terhindar dari gangguan lingkungan kerja, tingkat stres menurun, serta biaya operasional yang juga menurun jika dikelola secara efektif.

Menurut Dhea, di balik semua kekurangan dan kelebihan, ada beberapa langkah mencapai kesuksesan dalam implementasi WFH, antara lain: melakukan identifikasi, yaitu memilah siapa saja dan pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan dari rumah; menentukan sumber daya peralatan yang wajib dimiliki oleh pegawai dan memfasilitasinya; penentuan mekanisme pengawasan dan kordinasi yang efektif; menjaga komunikasi yang baik; dan memastikan penggunaan perangkat aplikasis secara efektif. Pada akhirnya, Dhea menyimpulkan bahwa bekerja dari rumah atau WFH merupakan sistem yang saat ini paling mungkin diijalankan oleh pemerintah dalam rangka mengurangi penyebaran covid-19. Oleh karena itu, ASN harus menjalankan protokol WFH secara disiplin dan tetap melakukan pelayanan sebaik mungkin sebagai bentuk tanggungjawab atas sebuah amanah.

Editor: Shofi’unnafi, M.M dan Bayu Mitra A. Kusuma, M.AP, M.Pol.Sc