Dosen MD Menjadi Narasumber Webinar Nasional PAMDI

Hantaman pandemi Covid-19 telah merubah lanskap kehidupan manusia di berbagai aspek. Umat manusia kemudian dituntut untuk beradaptasi dengan situasi agar kehidupan tetap berjalan sekalipun masih tertatih-tatih. Di masa ini, berbagai aktivitas masyarakat mulai bertransformasi menemukan bentuk baru dengan memanfaatkan berbagai saluran. Tak terkecuali di dunia dakwah yang kini banyak beralih ke media daring. Mengacu pada kondisi tersebut, Perkumpulan Ahli Manajemen Dakwah Indonesia (PAMDI) bekerja sama dengan MD UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan kegiatan webinar nasional.

Kegiatan tersebut menghadirkan beberapa narasumber yang salah satunya adalah Dosen Muda MD UIN Sunan Kalijaga, Bayu Mitra A. Kusuma, S.AP, M.AP, M.Pol.Sc. Adapun narasumber berkompeten lainnya adalah Prof. Dr. Mahmuddin, M.Ag (Guru Besar MD UIN Alauddin Makasar), Dr. Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I, M.Pd.Kons (Dosen senior MD UIN Sunan Ampel Surabaya), dan Dr. Ahmad Sarbini, M.Ag (Dekan FDK UIN SGD Bandung). Mereka menyampaikan presentasi dengan tema besar “Manajemen Dakwah di Masa Pandemi: Tantangan dan Strategi Pengembangannya”. Pelaksana kegiatan tersebut, Asep Iwan Setiawan, M.Ag menyampaikan bahwa webinar ini adalah ikhtiar akademisi dakwah dalam menjawab fenomena yang berkembang.

Dalam agenda yang dihelat pada hari Kamis tanggal 21 Mei 2020 mulai pukul 10:00 sampai 12:00 WIB tersebut, Bayu memaparkan sebuah presentasi berjudul “Manajemen Dakwah di Masa Pandemi: Sudahkah Kita Bijak Dalam Memanfaatkan Platform Digital?”. Bayu sengaja mengambil tema tersebut karena dia mendapat giliran ketiga dalam presentasi sehingga berupaya mencari celah untuk memperkaya kajian yang kemungkinan belum tersampaikan sebelumnya.

Dalam pemaparannya, Bayu menyampaikan bahwa dalam pandemi ini siapa yang unggul adalah mereka yang paling adaptif dan inovatif. Dengan kata lain inovasi akan mejadi ideologi global pasca Covid-19. Manajemen dakwah yang mampu bertahan di masa pandemi adalah dengan metode yang adaptif dan inovatif, salah satunya dengan digitalisasi dakwah. Pada dasarnya sebelum pandemi pun sudah banyak organisasi keagamaan atau da’i yang berdakwah lewat konten digital. Kini, semua orang harus mulai membiasakan akrab dengan platform digital. Toh pada realitanya masyarakat kita sudah sangat akrab dan betah berlama-lama di depan gadget.

Dalam hal konten yang layak diunggah di media digital, Bayu menyebutkan bahwa agama tanpa gerakan sosial bagai burung tanpa sayap. Oleh karena itu jangan hanya membuat konten yang sifatnya ritual semata, tapi juga ajakan kebaikan yang menukik pada permasalahan seperti penangananan covid dan isu sosial lainnya. Apalagi kaum urban dikenal menginginkan Islam yang ready to use, tapi jangan jadikan itu sebagai alasan simplifikasi dalam mengkaji Islam.

Bayu tidak hanya menekankan pada konten, tapi juga urgensi mengedukasi umat dalam merespon konten. Dia mengingatkan bahwa media sosial atau digital merupakan mimbar bebas yang disertai regulasi, sehingga kita harus bijak menggunakannya. Dia menyoroti kebiasaan sebagian netizen yang gemar berkomentar nyinyir tanpa memahami atau menyimak sampai tuntas, bahkan membawa simbol agama dalam komentar negatif dan bermuatan hoax. Sebagai kesimpulan, dia merekomendasikan bahwa kita perlu menciptakan mindset bahwa da’i bukan terbatas yang menciptakan konten saja, melainkan juga pengakses konten melalui komentar yang membangun, tidak mengadili, dan menggunakan kalimat yang beretika.

Editor: Shofi’unnafi, M.M.