Women on Board Effect: Prodi MD Soroti Peran Perempuan, Religiositas, dan Kinerja ESG pada Lembaga Keuangan Islam di Asia Tenggara

YOGYAKARTA — Program Studi Manajemen Dakwah (MD), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Umum dengan mengangkat tema “Women on Board Effect: Religiositas dan Kinerja ESG pada Lembaga Keuangan Islam di Asia Tenggara” pada Kamis pagi, 24 September 2026, bertempat di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan Ary Yunita Anggraeni, S.E., M.S.A., Ph.D., Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Merdeka Malang sebagai narasumber. Ia memiliki minat riset pada isu Environmental, Social, and Governance (ESG) pada lembaga keuangan Islam. Kuliah umum ini diikuti oleh sekitar 200 mahasiswa Program Studi MD, yang terdiri atas mahasiswa angkatan 2026 atau semester 1 dan angkatan 2025 atau semester 3. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh pimpinan serta para dosen Prodi MD.

Dalam pemaparannya, alumni National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan tersebut menjelaskan bahwa ESG merupakan salah satu pendekatan untuk menilai sejauh mana sebuah lembaga menjalankan tanggung jawabnya terhadap lingkungan, masyarakat, dan tata kelola organisasi, tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan.

Pada aspek environmental, misalnya, lembaga dinilai dari sejauh mana aktivitasnya memperhatikan keberlanjutan lingkungan, termasuk dalam pembiayaan proyek-proyek yang ramah lingkungan. Sementara aspek social berkaitan dengan bagaimana lembaga memperlakukan dan memberdayakan manusia, antara lain melalui pemberdayaan UMKM, inklusi keuangan, dan perhatian terhadap kesejahteraan karyawan. Adapun governance menekankan pentingnya tata kelola yang amanah, transparan, akuntabel, serta membuka ruang bagi keberagaman suara dalam proses pengambilan keputusan.

Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan lembaga keuangan Islam di Asia Tenggara (terutama Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam), termasuk perbankan syariah, asuransi syariah (takaful), dan berbagai institusi keuangan Islam lainnya. Lembaga-lembaga tersebut menghadapi tuntutan untuk menjalankan dua komitmen sekaligus, yakni memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah dan memenuhi tuntutan tanggung jawab lingkungan, sosial, serta tata kelola.

“Lembaga keuangan Islam memiliki janji ganda: patuh syariah sekaligus bertanggung jawab secara lingkungan, sosial, dan tata kelola. Di sinilah agama dan praktik bisnis modern perlu berdialog,” jelas Ary dalam pemaparannya.

Untuk memudahkan mahasiswa memahami keterkaitan tersebut, Ary menggunakan analogi sederhana. Lembaga keuangan Islam dapat dibayangkan seperti masjid yang juga menjalankan usaha: nilai-nilai yang menjadi landasannya harus tetap terjaga, tetapi pengelolaannya juga harus profesional dan bertanggung jawab kepada masyarakat luas.

Salah satu fokus utama kuliah umum adalah mengenai keberadaan perempuan dalam struktur pengambilan keputusan lembaga, khususnya melalui konsep Women on Board Effect. Ary menjelaskan bahwa meskipun perempuan telah banyak berkontribusi dan bekerja dalam industri keuangan, keterwakilan mereka pada tingkat dewan dan posisi pengambil keputusan tertinggi masih menjadi isu yang penting untuk dikaji.

Menurutnya, jumlah keterwakilan perempuan dalam dewan dapat memengaruhi bagaimana perspektif perempuan diterima dalam proses pengambilan keputusan. Ketika hanya terdapat satu perempuan dalam ruang pengambilan keputusan yang didominasi laki-laki, pandangannya berpotensi dipersepsikan sebagai pandangan individual. Namun, ketika keterwakilan perempuan mencapai jumlah yang lebih berarti, perspektif tersebut berpotensi memperoleh ruang yang lebih kuat dalam proses deliberasi dan keputusan organisasi.

“Kalau cuma ada satu perempuan di ruang rapat berisi sembilan orang, suaranya mudah dianggap mewakili diri sendiri. Tetapi ketika jumlahnya cukup, perspektif perempuan mulai memiliki ruang yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kuliah umum tersebut membahas kemungkinan hubungan antara keberagaman gender dalam dewan, religiositas, dan kinerja ESG. Keberagaman gender pada tingkat pengambilan keputusan dapat menghadirkan perspektif yang lebih beragam dalam merespons persoalan lingkungan dan sosial. Dalam konteks lembaga keuangan Islam, pengaruh tersebut juga menjadi menarik ketika dipertemukan dengan nilai-nilai religiositas yang tidak berhenti pada simbol, tetapi diwujudkan dalam praktik tata kelola dan tanggung jawab kelembagaan.

Dengan demikian, pembahasan Women on Board Effect tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan representasi perempuan, tetapi juga sebagai bagian dari diskursus yang lebih luas mengenai bagaimana nilai Islam, keberagaman dalam kepemimpinan, dan prinsip keberlanjutan dapat berkontribusi terhadap pengelolaan lembaga keuangan Islam di Asia Tenggara.

Bagi mahasiswa Prodi MD, tema tersebut memberikan perspektif interdisipliner yang mempertemukan manajemen, kepemimpinan, gender, religiositas, dan keberlanjutan. Hal ini sekaligus memperluas pemahaman mahasiswa bahwa pengelolaan lembaga berbasis nilai keagamaan membutuhkan kapasitas profesional sekaligus komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan kemaslahatan masyarakat.

Melalui kuliah umum ini, Prodi MD terus mendorong mahasiswa untuk memahami perkembangan isu-isu kontemporer dalam pengelolaan lembaga Islam serta membangun perspektif global dan kemampuan akademik yang relevan dengan dinamika organisasi dan industri di tingkat regional maupun internasional.