Manajemen Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19
Oleh: Indel
Alumnus Prodi Manajemen Dakwah dan Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga
Virus Corona atau lebih lazimnya disebut dengan Covid-19 merupakan bencana alam kemanusiaan yang mendegratasi semua aspek kehidupan. Aspek kehidupan ekonomi, aspek kehidupan sosial, aspek kehidupan budaya, dan aspek kehidupan dunia pendidikan. Bahkan Dunia seakan percaya bahwa satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran virus corona adalah dengan cara menghentikan arus globalisasi. Dengan membangun tembok, membatasi perjalanan, membatasi perkumpulan, membatasi perdagangan, menghentikan proses pendidikan. Justru upaya ini dapat menyebabkan keruntuhan ekonomi, dan melemahnya sistem pendidikan tanpa jaminan perlindungan nyata terhadap pandemi virus corona.
Ketimpangan yang terjadi diantara kota dan daerah mengenai perangkat teknologi. Kalau kita bahas di kota besar, sudah berapa banyak orang tua yang mengeluh, bagaimana kemudian mereka membagi waktu antara kewajiban mereka bekerja dari rumah, tapi disisi lain juga diberikan kewajiban pelajaran sekolah yang diberikan oleh guru kemudian orang tua yang menjadi berkewajiban untuk memberikan pelajaran tersebut. Sedangkan di daerah terpencil tidak semua wali murid yang memiliki fasilitas untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh, diantaranya tidak mempunyai smartphone, perangkat komputer, internet lemot, bahkan rata-rata perekonomian orang tua banyak melemah, belum tentu mereka mampu membeli kuota internet yang lebih dari pada biasanya.
Seperti seorang guru yang bernama Bapak Avan Abdurrahman di Sumenep yang di wawancarai di Kompas TV pada tanggal 23 April 2020, beliau mengatakan bahwa kebanyakan wali murid siswanya tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh, seperti tidak mempunyai Smarphone, internet lemot, perekonimian mereka melemah, bahkan ada yang mencari jaringan internet yang stabil ke Desa sebelah. maka kebijakan yang dilakukan bapak Avan Abdurrahman adalah mengunjungi satu-persatu rumah wali muridnya. Jarak dari rumah Bapak Avan Abdurrahman ke rumah siswanya sekitar tiga kilometer, belum lagi dari rumah siswa ke siswa lainnya, mungkin lebih lagi. Tidak hanya sampai disitu, beliau bahkan menitipkan motornya di tempat orang lain, kemudian beliau berjalan kaki ke rumah siswanya, karena rumah siswanya berada ditengah sawah.
Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan internet saat ini sangat tepat, karena dimasa krisis ini, memang kondisi yang tidak memungkinkan, dengan alas an mengurangi berkumpulnya manusia dalam jumlah besar, namun fakta, dan nyata berkata, sebagian wilayah yang terpencil mangalami ketimpangan dimana merekatidak mempunyai fasilitas komunikasi yang baik, sehingga mempersulit mereka untuk melaksankan proses pendidikan jarak jauh.
Di sinilah pemerintah harus mulai betul-betul memperbaiki manajemen pendidikan di Indonesia. Caranya dengan memperhatikan guru dan pengembangan kualitas serta kesejahteraanya. Karena guru tidak hanya sebagai tenaga pengajar, tidak hanya memberikan materi-materi pembelajaran, tapi guru juga sebagai tenaga pendidik yang mana mereka bertanggung jawab dengan kualitas hasil pendidikan itu sendiri. Apalagi dimasa Covid-19 seperti sekarang, seorang guru dituntut untuk memberikan edukasi yang kreatif. Sangat tidak efektif seorang guru memberikan penilaian secara kualitatif, tapi seorang guru lebih menekankan kepada pemberian keterampilan, kreativitas, dan motivasi tinggi, karena siswa-siswa juga bosan dirumah dan belajar terus menerus.
Jadi guru, siswa dan orang tua, juga sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan hanya suatu yang bisa dilakukan di sekolah, tapi pendidikan yang baik itu membutuhkan kaloborasi yang baik dari tiga pihak tersebut, dan tanpa adanya kaloborasi tersebut maka manajemen pendidikan yang efektif tidak akan pernah terjadi.